Isu sampah organik kembali menjadi perhatian setelah program sabun eco enzyme digulirkan di Jakarta Utara. Universitas 17 Agustus 1945 atau UTA 45 Jakarta memberdayakan warga RPTRA Dukuh Manis, Semper Barat, Cilincing, agar limbah dapur tidak hanya dibuang, melainkan diolah menjadi produk bernilai. Bagi pembaca di Pekanbaru dan Riau, praktik serupa relevan karena pola timbulan sampah rumah tangga di kota-kota besar cenderung mirip.
Kegiatan pengabdian masyarakat itu berlangsung Rabu, 19 Agustus 2026, dan diikuti sekitar 50 peserta. Mereka terdiri atas ibu-ibu PKK serta perwakilan RT dan RW setempat. Tim pelaksana melibatkan dosen serta mahasiswa UTA 45 Jakarta, yakni Sisman Prasetyo, Rangki Astiani, dan Yanuar Rahmadan, dengan dukungan Dana Hibah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Latar belakang beban sampah ibu kota
Ketua tim, Sisman Prasetyo, yang juga dosen Fakultas Administrasi Kebijakan Publik UTA 45 Jakarta, menekankan keprihatinan terhadap tumpukan sampah di ibu kota. Ia menyebut Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah per hari. Dari volume tersebut, kurang lebih 49,87 persen merupakan sampah organik yang sebenarnya masih bisa diolah.
Di tingkat nasional, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat Indonesia menghasilkan sekitar 71 juta ton sampah pada 2025. Lebih dari separuh timbulan itu berasal dari rumah tangga. Angka-angka resmi ini menjadi alasan tim memilih pendekatan praktis: mengubah sisa organik menjadi sabun eco enzyme yang dapat dipakai sehari-hari atau dikembangkan sebagai peluang usaha kecil.
RPTRA Dukuh Manis sebagai lokasi percontohan
RPTRA Dukuh Manis dipilih sebagai titik uji coba karena kedekatannya dengan komunitas padat dan ketersediaan ruang bersama untuk pelatihan. Di lokasi itu, peserta diajak memahami alur sederhana mulai dari pemilahan limbah dapur, fermentasi eco enzyme, hingga formulasi sabun yang lebih ramah lingkungan dibanding produk berbahan kimia keras.
Pendekatan berbasis RPTRA memudahkan ibu-ibu PKK dan pengurus RT/RW mempraktikkan langsung di lingkungan masing-masing. Model komunitas seperti ini dinilai lebih berkelanjutan daripada sosialisasi sekali jalan, karena warga dapat saling mengawasi kualitas olahan dan berbagi hasil panen enzyme.
Ekonomi hijau dari limbah dapur
Program ini diposisikan sebagai salah satu cara mendongkrak ekonomi hijau di tingkat lokal. Sabun eco enzyme tidak hanya mengurangi volume sampah yang diangkut ke tempat pemrosesan akhir, tetapi juga membuka peluang penjualan produk rumahan bila kualitas dan kemasan dijaga.
Bagi daerah lain, termasuk kawasan urban di Riau seperti Pekanbaru, pola yang sama bisa menjadi inspirasi tanpa harus menunggu proyek berskala besar. Yang diperlukan adalah pemilahan di sumber, pendampingan teknis singkat, dan jejaring warga yang sudah terbiasa berkumpul di ruang publik setempat.
- Pemilihan lokasi komunitas padat dan aktif
- Pelibatan PKK serta pengurus RT/RW
- Pendanaan kemitraan perguruan tinggi dan kementerian
- Fokus pada sampah organik rumah tangga
Manfaat jangka panjang bagi kota
Jika praktik eco enzyme menyebar, beban angkut sampah organik dapat berkurang bertahap. Di sisi lain, kesadaran memilah dari rumah memperkuat kebijakan pengurangan sampah di hulu. UTA 45 Jakarta menempatkan kegiatan ini sebagai terobosan pengabdian yang menghubungkan riset kampus dengan kebutuhan warga sehari-hari.
Keberlanjutan program akan bergantung pada pendampingan lanjutan, ketersediaan bahan fermentasi, dan minat warga mempertahankan produksi. Meski digelar di Jakarta Utara, pelajaran utamanya bersifat universal: limbah organik rumah tangga bukan semata-mata beban, melainkan bahan baku produk kebersihan yang lebih ramah lingkungan.
Dengan fakta volume sampah yang masih tinggi secara nasional, inisiatif semacam pelatihan sabun eco enzyme layak dicermati pemerintah daerah, kampus, dan komunitas di luar ibu kota. Replikasi yang hati-hati, sesuai konteks lokal, dapat memperkuat gerakan pengurangan sampah tanpa mengorbankan kebutuhan ekonomi keluarga.
Sumber: Sindo News.