RIAU
Indeks
Nasional

Tafsir Surah Maryam: Gunung Hampir Runtuh karena Ucapan Syirik

Pembaca Muslim di Pekanbaru dan Riau kerap mencari rujukan yang jernih soal adab berbicara tentang Tuhan. Salah satu rujukan itu hadir lewat tafsir surah maryam, khususnya ayat yang menggambarkan reaksi alam terhadap ucapan sangat mungkar. Al-Quran menegaskan bahwa makhluk di langit dan bumi bertasbih kepada Allah dengan cara masing-masing, termasuk gunung yang tampak kokoh.

Gambaran itu tidak dimaksudkan sebagai dongeng, melainkan peringatan teologis. Ketika sebagian manusia meyakini Allah mempunyai anak, ayat tersebut menempatkan ucapan itu sebagai beban yang amat berat bagi tatanan ciptaan. Dari sini, pembaca diajak memahami mengapa langit, bumi, dan gunung disebut hampir pecah, terbelah, dan runtuh.

Bunyi Ayat 90 Surah Maryam

Allah berfirman dalam Surah Maryam ayat 90 bahwa karena ucapan itu, hampir saja langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping. Redaksi Arabnya menekankan kedahsyatan reaksi yang hampir terjadi. Ayat ini berada dalam rangkaian pembahasan tentang keyakinan keliru yang menisbatkan anak kepada Allah SWT.

Frasa “hampir” menjadi kunci. Alam tidak digambarkan benar-benar hancur pada saat itu, tetapi potensi guncangan moral dan kosmik itu cukup untuk menegaskan betapa seriusnya pelanggaran tauhid. Bagi pembaca awam, ayat ini memperlihatkan bahwa kata-kata tentang Tuhan bukan perkara sepele.

Penjelasan Tafsir Kementerian Agama

Menurut penjelasan Tafsir Kementerian Agama, seandainya langit, bumi, dan gunung-gunung dapat mendengar serta memahami ucapan orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka terguncang dahsyat. Mereka tidak sanggup menanggung perkataan yang mengandung penghinaan terhadap Sang Pencipta. Penekanan tafsir ini terletak pada ketidakmampuan ciptaan menerima celaan terhadap keesaan Allah.

Dengan kata lain, ayat tersebut memakai bahasa hiperbolis yang sahih secara teologis untuk menanamkan rasa takut dan hormat. Bukan sekadar metafora sastra, melainkan isyarat bahwa syirik adalah beban yang melampaui daya tahan tatanan alam bila diukur dari sudut pandang keimanan.

Makhluk Langit dan Bumi yang Bertasbih

Al-Quran berulang kali menerangkan bahwa seluruh makhluk di langit dan bumi senantiasa bertasbih. Gunung, yang sering dianggap benda mati, ikut dalam jajaran makhluk yang memuji Allah dengan caranya sendiri. Ketika ucapan manusia bertolak belakang dengan tasbih itu, kontrasnya menjadi sangat tajam.

Perspektif ini membantu umat memahami posisi gunung dalam narasi kitab suci: bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari paduan ibadah kosmik. Maka, reaksi “hampir runtuh” menjadi simbol penolakan total terhadap pernyataan yang merendahkan keagungan Ilahi.

  • Langit digambarkan hampir pecah.
  • Bumi disebut hampir terbelah.
  • Gunung-gunung hampir runtuh berkeping-keping.

Pelajaran Adab Tutur bagi Muslim Riau

Bagi masyarakat Riau yang mayoritas Muslim, ayat ini relevan sebagai pengingat menjaga lisan. Ucapan tentang akidah perlu ditimbang, terutama di ruang publik, pengajian, maupun percakapan sehari-hari. Menjauhi pernyataan yang menisbatkan sifat mustahil kepada Allah adalah bagian dari menjaga tauhid.

Pelajaran praktisnya sederhana: perkuat ilmu dasar akidah, rujuk tafsir yang mu’tabar, dan hindari candaan atau klaim yang menyinggung keesaan Allah. Dengan begitu, pembaca tidak hanya kagum pada keindahan bahasa ayat, tetapi juga menerapkannya dalam sikap.

Secara keseluruhan, Surah Maryam ayat 90 menempatkan alam sebagai saksi diam yang “hampir” tidak kuat menahan ucapan syirik. Semoga ringkasan ini mendorong pembaca Liputan Riau untuk kembali membuka mushaf, membaca tafsir resmi, dan memelihara adab ketika menyebut nama Allah.

Sumber: Sindo News.

Tag: tafsir surah maryam, ayat gunung runtuh, tauhid, adab lisan, al-quran, muslim riau, kemenag