Pemilihan Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031 menempatkan nama Gus Kikin PBNU di pusat perhatian warga nahdliyin, termasuk di Riau dan Pekanbaru yang selama ini mengikuti dinamika organisasi secara nasional. KH Abdul Hakim Mahfudz, yang akrab disapa Gus Kikin, dipercaya memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama setelah dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus tokoh dengan pengalaman wirausaha.
Bagi pembaca di daerah, pergantian kepemimpinan di tingkat pusat biasanya dibaca sebagai penentu arah program ekonomi, pendidikan, dan dakwah yang kelak bersentuhan dengan cabang serta ranting di wilayah. Artikel ini merangkum fakta profil, riwayat pendidikan, perluasan pesantren, serta rekam jejak usaha Gus Kikin tanpa menambah peristiwa yang tidak terverifikasi.
Siapa Gus Kikin dan bagaimana ia terpilih memimpin PBNU
KH Abdul Hakim Mahfudz terpilih sebagai Ketua Umum PBNU untuk masa khidmat 2026–2031. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur, generasi ke-8 sejak 2020, meneruskan estafet kepemimpinan yang sebelumnya diemban KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.
Garis keluarganya terhubung dengan KH M Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Latar belakang tersebut membuat namanya tidak asing di kalangan pesantren dan pengurus NU di berbagai daerah. Sebelum menduduki kursi ketua umum, ia dipercaya sebagai Ketua PBNU Bidang Ekonomi sejak 2022, posisi yang menempatkannya dekat dengan isu pemberdayaan ekonomi warga.
Riwayat lahir, pendidikan, dan jejak pesantren
Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958. Pendidikan formalnya ditempuh di Jombang, dilanjutkan ke STIP Jakarta, lalu meraih gelar sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Terbuka. Di samping jalur sekolah umum, ia juga belajar di sejumlah pesantren di Jombang, kombinasi yang kemudian mewarnai gaya kepemimpinannya di Tebuireng.
Sejak memegang tampuk pengasuhan, ia mendorong pengembangan pesantren hingga memiliki 15 cabang di berbagai wilayah Indonesia. Perluasan jaringan pesantren ini menjadi salah satu capaian yang sering dikaitkan dengan kepemimpinannya, sekaligus modal jaringan saat mengurus organisasi di tingkat nasional.
Kiai entrepreneur: dari BBS Group hingga sektor energi
Di luar dunia pesantren dan struktur NU, Gus Kikin dikenal sebagai kiai yang aktif di dunia usaha. Ia pernah berkarier di PT Djakarta Lloyd, kemudian mendirikan BBS Group pada 1997. Pada rentang 2000–2013 ia menjabat Ketua Bidang Energi Kadin Jawa Timur, pengalaman yang menempatkannya pada persinggungan antara organisasi pengusaha dan isu energi daerah.
Rekam jejak usahanya juga mencakup sektor migas melalui PT Energi Mineral Langgeng (EML) serta media melalui stasiun televisi BBS TV. Kombinasi peran ulama, pengelola pesantren, dan pelaku usaha inilah yang membuat banyak liputan menyebutnya sebagai kiai entrepreneur—sebutan yang menonjolkan sisi kemandirian ekonomi di samping khidmat keagamaan.
- Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8 sejak 2020
- Ketua PBNU Bidang Ekonomi sejak 2022
- Pendiri BBS Group (1997) dan keterkaitan dengan BBS TV
- Pengalaman di Kadin Jatim Bidang Energi (2000–2013)
- Usaha migas melalui PT Energi Mineral Langgeng (EML)
Makna kepemimpinan baru bagi warga NU di Riau
Meskipun basis pesantren utamanya di Jombang, kepemimpinan Ketua Umum PBNU selalu menjadi rujukan pengurus dan jamaah di luar Jawa, termasuk Riau. Warga NU di Pekanbaru dan kabupaten sekitarnya pada umumnya menempatkan kebijakan pusat—terutama di bidang ekonomi, pendidikan, dan penguatan kelembagaan—sebagai acuan program cabang.
Dengan latar belakang Gus Kikin di Bidang Ekonomi PBNU serta pengalaman wirausaha, isu pemberdayaan ekonomi nahdliyin berpeluang mendapat penekanan. Hal itu relevan bagi daerah yang memiliki jaringan pesantren, koperasi, dan usaha kecil berbasis komunitas. Tentu, wujud program konkret akan bergantung pada arah resmi kepengurusan baru setelah struktur lengkap tersusun.
Secara keseluruhan, terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz menandai kesinambungan antara tradisi pesantren Tebuireng, garis sejarah NU, dan pendekatan praktis di bidang usaha. Publik di Pekanbaru dapat mengikuti perkembangan program nasional tersebut melalui saluran resmi organisasi serta pemberitaan yang memverifikasi fakta, tanpa tercampur spekulasi.
Sumber: Liputan6.