Kabar belasungkawa menyebar di kalangan hiburan tanah air setelah ibunda Lady Nayoan, Rima Sania Pontoh, meninggal dunia pada Senin malam. Kepergiannya terjadi setelah kondisi kesehatan menurun tajam dalam sebulan terakhir. Bagi pembaca di Pekanbaru dan Riau yang mengikuti kabar selebritas nasional, peristiwa ini menjadi pengingat betapa rapuhnya kesehatan di balik sorotan publik.
Lady Nayoan mengungkapkan bahwa sang ibu berjuang menghadapi komplikasi kanker ginjal. Meski keluarga sempat merencanakan tindakan medis besar, kondisi fisik almarhumah terus melemah hingga napas terakhir tercatat pukul 19.23 WIB. Wawancara terkait kisah ini disampaikan Lady di Bekasi, Jawa Barat.
Pesan iman sebelum napas terakhir
Sebelum kondisi memburuk total, Rima Sania Pontoh sempat menyampaikan kalimat yang membekas di hati putrinya. Ia menyatakan kesiapan untuk pulang ke rumah Yesus. Ungkapan itu, menurut Lady Nayoan, justru memberi ketenangan di tengah duka yang mendalam.
Pesan tersebut menjadi penopang emosional keluarga. Bukan sekadar kata-kata perpisahan, melainkan isyarat bahwa almarhumah telah menerima perjalanan akhir hidupnya dengan sikap damai. Lady menyebut kalimat sang mama membuatnya lebih tenang menghadapi kenyataan pahit.
Komplikasi kanker ginjal dan rencana operasi
Penurunan kesehatan Rima Sania Pontoh berlangsung drastis dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Komplikasi kanker ginjal menjadi faktor utama yang melemahkan daya tahan tubuh. Sebelum akhirnya berpulang, sempat ada rencana operasi besar pengangkatan kandung kemih yang dinilai berisiko sangat tinggi.
Namun takdir berjalan lain. Tubuh almarhumah tidak lagi mampu menahan beban penyakit. Keluarga harus menerima bahwa tindakan medis yang direncanakan tidak sempat dijalankan karena kondisi fisik terus menurun hingga titik akhir.
Duka keluarga dan suasana di Bekasi
Lady Nayoan dan kerabat dekat merasakan kehilangan besar. Ia dikenal luas bersama pasangan, Rendy Kjaernett, sehingga kabar wafatnya ibunda turut menjadi sorotan publik. Di Bekasi, tempat wawancara berlangsung, Lady menuturkan kronologi singkat dengan nada haru namun tegar.
Dukungan datang dari kerabat dan rekan di industri hiburan. Kepergian orang tua selalu meninggalkan ruang kosong, terlebih ketika pesan terakhir justru berisi kesiapan spiritual yang kuat. Hal itu menjadi narasi yang banyak dibicarakan setelah kabar duka tersebar.
Refleksi bagi pembaca soal kesehatan dan keluarga
Kisah ibunda Lady Nayoan menggarisbawahi pentingnya perhatian terhadap gejala penyakit kronis dan komunikasi terbuka di dalam keluarga. Kanker ginjal dengan komplikasi dapat berkembang cepat; deteksi serta pendampingan medis yang konsisten tetap krusial, meski hasil akhir tidak selalu sesuai harapan.
- Pantau perubahan kesehatan lansia atau anggota keluarga berisiko secara berkala.
- Diskusikan keinginan spiritual dan medis sejak dini agar keputusan lebih jernih.
- Jaga dukungan emosional antaranggota keluarga saat perawatan berlangsung.
Bagi masyarakat Riau yang mengikuti berita nasional, cerita ini juga mengingatkan bahwa di balik nama publik terdapat ruang pribadi penuh cinta dan perpisahan. Doa serta belasungkawa menjadi bentuk empati yang sederhana namun bermakna.
Almarhumah Rima Sania Pontoh telah kembali dengan pesan iman yang ia sampaikan sendiri. Keluarga besar Lady Nayoan kini menempuh masa berkabung sambil memegang erat kenangan dan kalimat terakhir sang ibu. Semoga duka ini diliputi ketabahan dan penghormatan yang layak bagi perjalanan hidupnya.
Sumber: Sindo News.