RIAU
Indeks
Nasional

Ziarah Baqi’ hingga Komando Usamah: Catatan Menjelang Wafat Nabi Muhammad SAW

Menjelang wafat Rasulullah SAW, sejumlah peristiwa penting terekam dalam riwayat klasik. Isyarat dekatnya ajal muncul, namun perhatian beliau tetap tertuju pada kelangsungan urusan umat Islam. Bagi pembaca Muslim di Pekanbaru dan Riau, kisah ini sering dijadikan bahan renungan tentang tanggung jawab kepemimpinan dan amal.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa setelah mempersiapkan ekspedisi, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tetap menjalankan langkah-langkah yang menegaskan kesiapan spiritual sekaligus penataan urusan publik. Fokus utamanya bukan pada diri sendiri, melainkan agar kaum muslimin tidak meninggalkan kewajiban yang belum diselesaikan.

Ziarah ke Baqi’ dan isyarat bacaan Al-Qur’an

Salah satu kisah yang dinukil Ibnu Abil Hadid dalam Syarh Nahjil Balaghah mengisahkan ziarah Rasulullah SAW ke pemakaman Baqi’. Di sana beliau mengucapkan salam kepada penghuni kubur dan memohonkan ampunan bagi mereka. Momen tersebut menjadi bagian dari rangkaian hari-hari terakhir yang penuh makna.

Kepada para sahabat, beliau menyampaikan bahwa Malaikat Jibril biasanya mengulang bacaan Al-Qur’an bersama beliau sekali dalam setahun. Namun pada tahun itu, pengulangan dilakukan dua kali. Rasulullah SAW menyampaikan dugaan bahwa kejadian itu merupakan tanda semakin dekatnya ajal.

Khutbah penyelesaian titipan dan piutang

Keesokan harinya, khutbah disampaikan di hadapan para sahabat. Isinya mengingatkan agar berbagai urusan diselesaikan sebelum beliau meninggalkan mereka. Siapa pun yang masih memegang titipan diminta mengembalikannya. Orang yang memiliki piutang kepada beliau juga dipersilakan datang agar perkara itu segera dituntaskan.

Dalam pesan yang sama, ditekankan bahwa hubungan seseorang dengan Allah SWT tidak ditentukan oleh keturunan atau kedudukan duniawi. Yang menjadi penentu adalah amal perbuatan. Peringatan ini menegaskan bahwa status sosial tidak menggantikan keimanan dan amal saleh.

Pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai panglima

Setelah Haji Wada, Usamah bin Zaid bin Haritsah diangkat sebagai panglima pasukan untuk ekspedisi ke wilayah Syam guna menghadapi Romawi, termasuk persiapan menuju Balqa. Usamah masih berusia muda. Pengangkatan itu sempat menimbulkan kekhawatiran di sebagian kalangan sahabat karena masih banyak senior yang berpengalaman perang.

Meski ada keraguan, Rasulullah SAW tetap menegaskan kepemimpinan Usamah. Langkah itu memperlihatkan bahwa keputusan strategis tetap dijalankan demi kepentingan umat, bahkan ketika kondisi fisik beliau mulai menurun. Persiapan pasukan menjadi bukti bahwa urusan kolektif tidak dibiarkan terkatung-katung.

Sakit menjelang akhir hayat dan pelajaran kepemimpinan

Setelah rangkaian peristiwa itu, Rasulullah SAW jatuh sakit. Di tengah kondisi tersebut, perhatian terhadap kelangsungan komando dan tertib sosial tetap dijaga. Riwayat-riwayat ini menggambarkan keseimbangan antara persiapan menghadapi kematian dan tanggung jawab publik yang belum selesai.

Bagi masyarakat Muslim, termasuk di Pekanbaru, narasi sejarah ini sering dibaca ulang sebagai pengingat etika menyelesaikan hak orang lain, menegakkan amanah, serta menaati keputusan kepemimpinan yang sah. Intinya sederhana: isyarat ajal tidak menghentikan kewajiban menata urusan umat.

Dengan menelusuri ziarah Baqi’, khutbah penyelesaian utang-titipan, serta penegasan komando Usamah, pembaca memperoleh gambaran utuh tentang hari-hari menjelang wafat Rasulullah SAW. Peristiwa itu tetap relevan sebagai cermin kepemimpinan, tanggung jawab, dan orientasi amal.

Sumber: Sindo News.

Tag: Rasulullah SAW, Usamah bin Zaid, ziarah Baqi, sejarah Islam, khutbah Nabi, Haji Wada, Pekanbaru, isyarat ajal