Pesan untuk generasi muda AI kembali disampaikan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto di lingkungan kampus. Dalam Talk Show Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Kamis, ia menekankan agar anak muda tidak hanya menonton perubahan, melainkan aktif mengambil peran di tengah disrupsi digital.
Bagi pembaca di Riau dan Pekanbaru, arah pesan itu relevan karena banyak mahasiswa dan pemuda daerah yang tengah menghadapi gelombang teknologi serupa. Tanpa mengabaikan akar lokal, mereka tetap dituntut siap bersaing lewat keterampilan yang bisa dibawa ke dunia kerja dan ruang publik.
Tiga catatan agar pemuda tak tertinggal
Bima Arya menyebut generasi saat ini berpeluang menaklukkan tantangan zaman bila memenuhi tiga hal mendasar. Pertama, membangun kompetensi yang terus diperbarui. Kedua, memperluas jaringan pertemanan dan kolaborasi. Ketiga, berani mengambil peran meski skala kecil.
“Sekecil apa pun, ambil peran. Mau di RT, mau di komunitas, mau di kota, mau di kampus, ambil peran,” ujarnya. Ia menilai partisipasi nyata di lingkungan terdekat justru menjadi latihan kepemimpinan yang sulit digantikan teori semata.
AI keniscayaan, tapi manusia punya nurani
Di hadapan mahasiswa, Bima menyinggung kekhawatiran soal kecerdasan artifisial. Menurutnya, AI adalah tanda zaman yang memudahkan dan menghubungkan banyak pihak. Namun ia menegaskan teknologi itu tidak menggantikan seluruh dimensi kehidupan manusia.
Ia mengingatkan AI tidak memiliki hati, nurani, wisdom, maupun value. Selama manusia menguasai teknologi dengan baik, manusia tetap menjadi pengendali. Optimisme itu, kata dia, perlu dijaga agar generasi muda tidak pasrah atau takut berlebihan menghadapi otomatisasi.
Kompetensi digital, berpikir, dan human skills
Perubahan kini bergerak jauh lebih cepat dibanding masa lalu. Bima menggambarkan dulu pergeseran bisa memakan satu dekade, lalu menyusut ke hitungan tahun, dan kini kerap terjadi dalam hitungan hari karena pengaruh platform digital. Gerakan sosial di dunia nyata pun sering dipicu fenomena di media sosial, termasuk TikTok dan Threads.
Untuk itu, setidaknya tiga kompetensi dinilai penting: digital skills agar cakap menavigasi dunia daring; thinking skills berupa daya analisis dan problem solving; serta human skills, yakni kemampuan bergaul, berjejaring, dan menjaga karakter. Hidup, menurutnya, adalah seni memperbanyak teman dan memperkuat koneksi yang diimbangi integritas.
- Digital skills untuk memahami dan memanfaatkan teknologi
- Thinking skills untuk analisis serta penyelesaian masalah
- Human skills untuk relasi, kolaborasi, dan karakter
Karakter dibentuk di luar ruang kuliah
Bima menekankan ilmu kini bisa didapat dari banyak sumber, tidak hanya textbook di kelas. Pengalaman diskusi, pergaulan, dan interaksi dengan masyarakat justru membentuk kematangan. Ia memandang UIN bukan menara gading, melainkan kampus yang menyatu dengan lingkungan sekitar.
Mahasiswa baru diharapkan mewarisi kecerdasan sekaligus kebijaksanaan para pendahulu. Membaca tanda zaman, lanjutnya, perlu memadukan science dan wisdom: melihat ke depan sambil belajar dari sejarah yang memberi pelajaran fundamental menghadapi disrupsi.
Dengan bekal kompetensi, jejaring, dan karakter, generasi muda diharapkan mampu mengendalikan arah teknologi, bukan sebaliknya. Pesan dari Tangerang Selatan itu menjadi pengingat bagi pemuda di berbagai daerah, termasuk Riau, agar tetap aktif berkarya di tengah laju AI dan perubahan digital yang tak terelakkan.
Sumber: Republika.