RIAU
Indeks
Lingkungan

Tiga Dusun Gunungsari Krisis Air Bersih, DPRD Lombok Barat Desak BPBD Siaga Penuh

Kekeringan Lombok Barat kian terasa di puncak musim kemarau Agustus 2026. Warga tiga dusun di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari, terpaksa menempuh perjalanan berkilometer hanya untuk mendapatkan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini memunculkan kritik terhadap kecepatan respons pemerintah daerah. Anggota DPRD Lombok Barat sekaligus Ketua DPD Partai Perindo Lombok Barat, Syamsuriansyah, menilai penanganan kebutuhan air bersih oleh BPBD masih lambat dibanding urgensi di lapangan.

Dampak kemarau di Desa Bukit Tinggi

Saat Nusa Tenggara Barat memasuki puncak musim kemarau, pasokan air di sejumlah pemukiman Gunungsari menyusut tajam. Warga mengandalkan sumber air yang jaraknya jauh dari rumah, sehingga waktu dan tenaga tersita hanya untuk urusan dasar tersebut.

Situasi serupa sering menjadi perhatian di berbagai daerah rawan kekeringan, termasuk bagi pembaca di Riau yang tiap tahun juga memantau kesiapsiagaan musim kemarau. Pengalaman Lombok Barat menegaskan pentingnya distribusi air darurat yang terkoordinasi sejak dini.

Kritik legislator terhadap respons BPBD

Syamsuriansyah menekankan perbedaan antara respons cepat dan respons lambat pemerintah daerah dalam bencana. Menurutnya, kebutuhan air bersih warga tidak bisa ditunda karena menyangkut kesehatan dan aktivitas harian masyarakat.

Ia menilai tempo kerja BPBD belum sebanding dengan tingkat kesulitan yang dihadapi warga di tiga dusun terdampak. Pernyataan itu disampaikan dalam kutipan yang beredar Rabu, 26 Agustus 2026.

Desakan siaga tangki air sepanjang hari

Legislator tersebut mendesak BPBD Lombok Barat menyiagakan tangki air selama 24 jam. Langkah itu diharapkan memangkas jarak tempuh warga dan menjamin pasokan merata hingga kondisi kemarau mereda.

Penempatan tangki yang aktif nonstop dinilai lebih konkret daripada sekadar pemantauan rutin. Dengan begitu, titik-titik rawan di Gunungsari bisa terlayani tanpa menunggu keluhan menumpuk.

  • Lokasi terdampak: tiga dusun Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari
  • Periode: puncak musim kemarau Agustus 2026
  • Tuntutan utama: kesiagaan tangki air BPBD 24 jam
  • Pengawas isu: anggota DPRD Lombok Barat Syamsuriansyah

Arti penting kesiapsiagaan daerah rawan kemarau

Episod kekeringan di Lombok Barat menjadi pengingat bahwa data lokasi rawan dan armada distribusi air harus siap sebelum krisis memuncak. Koordinasi DPRD dan BPBD menentukan seberapa cepat bantuan sampai ke dusun terjauh.

Bagi daerah lain yang menghadapi pola kemarau serupa, pola desakan publik dan pengawasan legislatif seperti di Lombok Barat dapat mendorong perbaikan prosedur darurat. Transparansi jadwal pengiriman air juga membantu menekan spekulasi di tengah warga.

Penutupnya, pemenuhan air bersih saat kemarau bukan sekadar soal logistik, melainkan ukuran keberpihakan pemerintah daerah terhadap kebutuhan paling mendasar masyarakat. Respons yang lebih gesit dari BPBD diharapkan segera terlihat di lapangan.

Sumber: Sindo News.

Tag: kekeringan Lombok Barat, air bersih Gunungsari, BPBD NTB, DPRD Lombok Barat, musim kemarau, Desa Bukit Tinggi, Partai Perindo, tangki air darurat