RIAU
Indeks
Nasional

Umat Islam Pekanbaru Perlu Akrab dengan Penanggalan Hijriyah

Di tengah rutinitas yang sarat kalender Masehi, banyak muslim di Pekanbaru dan wilayah Riau masih jarang menengok kalender Hijriyah. Padahal penanggalan berbasis peredaran bulan itu menjadi rujukan utama sejumlah ibadah wajib dan sunah. Mengenali urutan bulan Hijriyah bukan sekadar hafalan nama, melainkan bekal agar waktu ibadah dikenali sejak dini dan dipersiapkan dengan tertib.

Penetapan awal bulan lewat hilal menautkan ritme alam dengan syariat. Karena itu, pemahaman dasar tentang sistem ini membantu jamaah masjid, keluarga, dan komunitas pengajian menyesuaikan jadwal puasa, hari raya, hingga rangkaian haji tanpa bergantung sepenuhnya pada pengumuman dadakan.

Dasar syariat dua belas bulan dalam setahun

Al-Qur’an menegaskan jumlah bulan dalam ketetapan Allah. Surat At-Taubah ayat 36 menyebut ada dua belas bulan sejak langit dan bumi diciptakan, dan di antaranya terdapat empat bulan haram. Ayat itu menjadi landasan bahwa struktur waktu tahunan umat Islam merujuk pada ketentuan ilahi, bukan sekadar kesepakatan sosial.

Dengan memahami kerangka tersebut, muslim menyadari bahwa kalender Hijriyah bukan produk budaya semata. Ia terikat pada nash yang mengatur pola waktu, sehingga mempelajari nama bulan—Muharam hingga Zulhijah—sekaligus menghormati batas-batas yang telah digariskan dalam agama yang lurus.

Hilal sebagai penanda waktu bagi manusia

Perubahan bentuk bulan sabit dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 189 sebagai penunjuk waktu bagi manusia. Awal bulan Hijriyah ditandai kemunculan hilal. Prinsip ini membedakan sistem lunar dari kalender matahari yang lebih akrab di administrasi sipil modern.

Bagi warga Pekanbaru yang aktif di majelis taklim atau panitia hari besar Islam, literasi hilal memudahkan komunikasi jadwal. Ketika informasi rukyat atau hisab beredar, jamaah yang sudah paham kerangka Hijriyah lebih cepat menempatkan tanggal ibadah dalam perencanaan keluarga dan kegiatan masjid setempat.

Patokan ibadah dari Ramadan hingga haji

Sejumlah ibadah utama terikat ketat pada bulan Hijriyah. Puasa Ramadan hanya jatuh di bulan Ramadan; Idul Fitri dirayakan 1 Syawal; Idul Adha dan puncak ibadah haji berkaitan dengan Zulhijah. Di luar itu, puasa Asyura dan puasa pada hari-hari Ayyamul Bidh juga merujuk penanggalan yang sama.

Tanpa keakraban terhadap kalender ini, risiko terlambat menyiapkan sahur bersama, kuota cuti, atau perjalanan umrah dan haji menjadi lebih besar. Sebaliknya, muslim yang memantau pergantian bulan Hijriyah dapat menyusun agenda spiritual lebih terukur sepanjang tahun.

  • Ramadan dan Idul Fitri terikat bulan Ramadan serta Syawal
  • Idul Adha dan haji berpusat pada rangkaian Zulhijah
  • Puasa Asyura dan Ayyamul Bidh mengikuti tanggal lunar

Manfaat praktis di kehidupan sehari-hari

Memahami kalender Hijriyah membantu orang tua mengajarkan anak siklus ibadah, memudahkan pengurus masjid menyusun kalender kegiatan, dan memberi konteks sejarah hijrah yang menjadi titik tolak penanggalan Islam. Di kota seperti Pekanbaru, di mana aktivitas keagamaan ramai di masjid dan sekolah, literasi ini memperkaya wawasan tanpa menyingkirkan kalender Masehi yang dipakai urusan resmi.

Pada akhirnya, mengenal penanggalan Hijriyah adalah cara menyeimbangkan modernitas dengan kesadaran syariat. Umat tetap beraktivitas dengan tanggal sipil, namun tidak kehilangan arah waktu-waktu utama yang telah digariskan Al-Qur’an dan praktik ibadah sepanjang sejarah Islam.

Dengan bekal itu, setiap pergantian hilal bisa disambut lebih siap: niat diperbarui, amalan dijadwalkan, dan kebersamaan jamaah diperkuat. Itulah inti pentingnya kalender Hijriyah bagi muslim masa kini.

Sumber: Sindo News.

Tag: kalender Hijriyah, ibadah Islam, hilal, Ramadan, Idul Fitri, Zulhijah, Pekanbaru, syariat