Persoalan jembatan Tegal Alur di Jakarta Barat kembali menjadi perhatian publik setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan akses bambu yang dipakai warga akan diganti konstruksi beton. Bagi pembaca di Pekanbaru dan Riau, kasus ini mengingatkan betapa krusialnya jembatan layak bagi mobilitas harian, terutama di kawasan padat yang bergantung pada satu jalur penyeberangan.
Pramono menegaskan pembangunan jembatan permanen tidak langsung dikerjakan, melainkan menunggu penyelesaian proyek Dinas Sumber Daya Air (SDA) di titik yang sama. Ia menjelaskan pembongkaran jembatan lama dilakukan agar alat berat bisa masuk untuk pengerukan saluran.
Alasan pembongkaran dan kendala alat SDA
Menurut penjelasan gubernur, kawasan Tegal Alur membutuhkan pengerukan sehingga struktur lama harus dibongkar. Proses itu kemudian tersendat karena alat kerja SDA mengalami vandalisme dan pencurian suku cadang. Akibatnya, peralatan tidak bisa dioperasikan normal.
Pramono menyebut kondisi tersebut menyedihkan, namun ia sudah meminta Dinas SDA melanjutkan pekerjaan hingga tuntas. Setelah tahap sumber daya air selesai, jembatan kayu atau bambu yang kini dipakai warga akan diganti menjadi jembatan beton agar lebih aman.
Dua tahun warga andalkan jembatan bambu
Sebelum pernyataan Pramono, anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Gias Kumari Putra menyoroti Gang Perkutut, Tegal Alur, Kalideres. Ia menilai warga sudah dua tahun menyeberang lewat jembatan bambu yang kurang layak setelah jembatan beton sebelumnya dibongkar demi akses alat berat normalisasi saluran.
Gias mendorong pemerintah tidak hanya menunggu jembatan permanen. Ia mengusulkan agar disediakan dulu jembatan sementara yang lebih aman bersama pelaksana proyek, supaya risiko kecelakaan di jalur penyeberangan bisa ditekan.
Urutan kerja: SDA dulu, beton kemudian
Komitmen Pemprov DKI menempatkan penyelesaian pengerukan dan pekerjaan SDA sebagai prasyarat. Baru setelah itu jembatan beton dibangun di lokasi yang sama. Logika urutan ini dikaitkan dengan kebutuhan ruang gerak alat berat dan keberlanjutan normalisasi saluran di sekitar Tegal Alur.
Pramono menekankan material kayu atau bambu dinilai membahayakan jika terus dipakai jangka panjang. Karena itu, opsi beton dipilih sebagai solusi permanen begitu hambatan teknis di lapangan beres.
Pelajaran infrastruktur untuk daerah lain
Meski peristiwa berlangsung di Jakarta Barat, pola masalahnya familiar bagi banyak kota, termasuk kawasan Riau yang sering menuntut perbaikan akses antarwilayah. Keterlambatan penggantian jembatan, kerusakan alat, dan desakan dewan setempat menjadi pengingat bahwa koordinasi antarinstansi menentukan rasa aman warga sehari-hari.
Warga Tegal Alur masih menunggu kepastian jadwal fisik setelah pekerjaan SDA dinyatakan selesai. Pemantauan publik dan DPRD diperkirakan berlanjut hingga jembatan beton benar-benar berdiri dan jalur bambu tidak lagi menjadi andalan utama.
Dengan jaminan gubernur, harapan warga adalah akses penyeberangan yang kuat, aman, dan tidak bergantung pada konstruksi darurat. Kejelasan tahapan SDA menjadi kunci agar janji jembatan beton tidak tertunda tanpa batas waktu.
Sumber: Liputan6.