RIAU
Indeks
Ekonomi

AdCamp di Solok Perkuat Branding Pelaku Ekraf Pascabencana

Program pelatihan pelaku ekraf digelar Kementerian Ekonomi Kreatif di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, sebagai bagian upaya pemulihan kapasitas usaha kreatif pascabencana. Melalui AdCamp: Skill Up Lab, Direktorat Periklanan Deputi Bidang Kreativitas Media membekali peserta dengan strategi branding hingga keterampilan produksi iklan agar produk lokal lebih siap bersaing di pasar.

Kegiatan intensif dua hari itu diikuti 50 peserta terpilih dari Kabupaten dan Kota Solok. Komposisinya mencakup 32 pegiat ekonomi kreatif di sektor kuliner dan fesyen, plus 18 mahasiswa serta talenta muda yang menaruh minat pada periklanan. Format laboratorium keterampilan dipilih agar materi langsung bisa dipraktikkan, bukan sekadar ceramah teori.

Bagian dari gerakan Ekraf Peduli

AdCamp tersambung pada payung program Ekraf Peduli bertajuk “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”. Fokusnya ganda: menguatkan kapasitas pelaku di lapangan dan membuka peluang pengembangan pasar bagi produk setempat. Pendekatan ini relevan bagi daerah yang tengah menata ulang rantai nilai kreatif setelah gangguan bencana menggerus omzet dan jaringan pemasaran.

Bagi pembaca di Pekanbaru dan Riau, model serupa layak dicermati. Ekosistem kuliner, kerajinan, dan fesyen di ibu kota Riau juga bergantung pada kemampuan menceritakan merek serta menayangkan iklan yang tepat sasaran. Pengalaman Solok memberi gambaran konkret bagaimana pelatihan singkat bisa menautkan kreativitas dengan kebutuhan pasar.

Pesan deputi soal SDM berkelanjutan

Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, menegaskan penguatan sumber daya manusia sebagai fondasi agar pelaku ekonomi kreatif mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Tanpa kemampuan mengelola merek dan komunikasi visual, inovasi produk sering berhenti di tahap produksi dan sulit menembus konsumen baru.

Dalam kerangka itu, materi branding dan produksi iklan menjadi inti AdCamp. Peserta diajak memahami cara menyusun posisi merek, menyusun pesan yang konsisten, lalu menerjemahkannya ke format iklan yang efisien dari sisi biaya maupun jangkauan. Kombinasi pelaku kuliner-fesyen dengan talenta periklanan muda juga membuka ruang kolaborasi lintas generasi di tingkat lokal.

Siapa saja yang dilibatkan di Solok

Seleksi 50 peserta mencerminkan keseimbangan antara praktisi usaha dan calon profesional kreatif. Pegiat kuliner dan fesyen membawa tantangan nyata: kemasan, cerita produk, dan diferensiasi di tengah persaingan UMKM. Sementara mahasiswa serta talenta periklanan menyumbang kepekaan tren visual, kanal digital, dan teknik produksi yang lebih mutakhir.

  • Lokasi: Kabupaten Solok, Sumatera Barat
  • Penyelenggara: Kemenekraf lewat Direktorat Periklanan
  • Durasi: pelatihan intensif dua hari
  • Peserta: 50 orang (32 kuliner-fesyen, 18 mahasiswa/talenta iklan)
  • Payung program: Ekraf Peduli “Pulih Bersama, Bangkit Berdaya”

Manfaat praktis bagi produk lokal

Branding yang jelas membantu konsumen mengenali asal-usul dan keunggulan produk Solok, sementara iklan yang terarah memperluas jangkauan tanpa harus bergantung semata pada penjualan tatap muka. Ketika keduanya dikuasai, pelaku ekraf punya peluang menjaga arus kas, menjalin mitra distribusi, dan menata ulang narasi usaha setelah masa sulit.

Dampak tidak hanya berhenti pada individu peserta. Kolaborasi antara pemilik usaha dan talenta muda periklanan dapat menumbuhkan jasa kreatif lokal—mulai dari desain kemasan hingga konten kampanye—sehingga nilai ekonomi berputar di dalam daerah. Pola ini sejalan dengan semangat bangkit berdaya yang diusung program tersebut.

Catatan untuk ekosistem kreatif daerah lain

Pekanbaru sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kreatif di Riau dapat mengambil pelajaran metodologis: pelatihan singkat, seleksi peserta campuran, dan kurikulum yang mengaitkan branding dengan produksi iklan. Tanpa meniru mentah-mentah konteks Solok, prinsip penguatan SDM tetap relevan bagi pelaku kuliner, fesyen, maupun subsektor lain di Riau.

Ke depan, keberhasilan AdCamp akan terlihat dari penerapan materi di lapangan—apakah merek lokal lebih konsisten, apakah kampanye iklan lebih terukur, dan apakah jejaring antara pelaku usaha dengan talenta muda tetap hidup setelah pelatihan usai. Monitoring sederhana atas indikator tersebut penting agar investasi kapasitas tidak berhenti di ruang kelas.

Secara keseluruhan, gelaran di Kabupaten Solok mempertegas peran Kemenekraf dalam mendampingi pemulihan ekonomi kreatif lewat keterampilan yang langsung menyentuh pasar. Branding dan produksi iklan bukan ornamen, melainkan alat agar produk daerah tetap bergerak ketika situasi mulai membaik.

Sumber: Sindo News.

Tag: ekonomi kreatif, AdCamp Solok, branding UMKM, pelatihan iklan, Kemenekraf, pemulihan pascabencana, kuliner fesyen, Sumatera Barat